Jas Merah
Menyakitkan memang, peran yang begitu nyata dengan resiko kehilangan nyawa, tiada berharga di mata penikmat hasil semata.
Demikian berita yang viral di medsos beberapa hari terakhir. Nama Suharto yang melegenda dalam peristiwa Serangan Oemoem 1 Maret, seakan hendak dihapuskan perannya setelah sebelumnya patung beliau dihilangkan dari markas TNI.
Begitu mudahnya melupakan jasa para perintis dan pejuang negeri yang berbeda pandangan ideologinya. Walau sebenarnya tidak ada kerugian yang akan dideritanya.
Namun sikap hasud dan mencari keuntungan pribadi atau golongan, membuang sikap hormat dan menghargai jasa siapa saja. Sungguh rendah sekali harga diri mereka.
Dalam Islam, bahkan yang tidak disebutkan nama sebagai pelaku sejarah, pun mereka tetap mendapat penghormatan yang layak. Atau terhadap yang berbeda haluan sekalipun seperti Abu Thalib.
Kita diberi tuntunan untuk mendoakan para pendahulu dengan redaksi doa, "Ya Tuhan kami, ampunilah kami, dan saudara kami yang telah mendahului kami dalam iman, dan janganlah Engkau jadikan dalam hati kami, kedengkian kepada orang-orang yang beriman. Wahai Tuhan kami, Sesungguhnya Engkau Maha Pengasih lagi Maha Penyayang.
Jas Merah (jangan sampai melupakan sejarah) adalah pesan universal, karena tanpa pendahulu, tak mungkin ada kita. Demikian pula Alquran menjadikan sejarah adalah kisah yang benar untuk menjadi pelajaran dan aturan bagi generasi selanjutnya.
Telah nyata kebencian di mulut-mulut mereka hendak memadamkan cahaya Islam, dan di dalam hatinya lebih keras lagi kebenciannya.
Mari senantiasa melihat masa lalu sebagai pelajaran dan masa depan sebagai harapan. Allahu a'lam bish-shawab
#SM
#Jasmerah
Komentar